Melihat pemimpin mereka sudah menyerah, Lynx ingin menghancurkan mentalnya agar perampok itu tidak berani membuat ulah lagi. "Jika kamu berani mempermainkanku..." Lynx mengalirkan energi ke pedangnya dan mengayunkannya ke sebuah pohon di dekat mereka, sehingga pohon tersebut meluncur jatuh dengan suara gemuruh, membelah tanah saat terjatuh. "Maka aku tidak segan-segan untuk menghancurkanmu juga," lanjut Lynx dengan nada mengancam, matanya menatap tajam ke arah Bruno.

Pohon yang tumbang itu membuat para wanita terkejut dan mundur, sementara Bruno terperangah, wajahnya semakin pucat. "Ba-bagaimana mungkin?!" desahnya, ketakutan terlihat jelas di wajahnya.

Lynx mendekat, pedangnya masih berkilau dengan energi yang mengalir. "Ingat, ini hanya peringatan. Jika kau mempermainkanku, aku tidak akan ragu untuk membunuhmu," katanya, suaranya penuh wibawa.

Bruno mengangguk cepat, tubuhnya bergetar. "T-tidak, aku tidak akan berani," jawabnya, berusaha menahan rasa takut yang melanda.

Lynx menyimpan pedangnya kembali ke dalam cincin penyimpanan, tetapi tatapannya tetap tajam. "Ambil pisau itu dan bersihkan," perintah Lynx sambil menunjuk pisau terbangnya yang menancap di dahi salah satu perampok.

Bruno, masih dalam keadaan ketakutan, segera mengambil pisau tersebut, membersihkannya dengan cepat, lalu menyerahkannya kepada Lynx.

Setelah menyimpan senjatanya, Lynx berbalik menghadap para wanita dan bingung melihat mereka terlihat ketakutan.

"Kenapa kalian takut? Aku sudah membunuh mereka," tanyanya dengan heran.

"Tolong... tolong jangan bunuh kami," kata salah satu wanita dengan ketakutan.

"Maafkan kami, tolong lepaskan kami," kata yang lainnya.

"Membunuh? Aku tidak akan membunuh kalian. Aku ingin menolong kalian," jawab Lynx dengan lembut, berusaha agar mereka tidak takut.

"Mungkin kekuatanku membuat mereka juga ketakutan," batin Lynx.

"Namaku Lynx, siapa nama kalian?" kata Lynx memperkenalkan diri.

"Lynx? Jadi kamu Lynx?" kata Bruno, mengulang nama Lynx dengan nada ketakutan. Dia sudah mendengar cerita tentang Lynx yang menghancurkan perkampungan perampok seorang diri dan menjadi musuh suku Monrest. Saat itu, dia mendapat tugas untuk menangkap para penduduk, sehingga ia tidak mengenali sosok Lynx.

Bruno terdiam ketakutan ketika Lynx meliriknya dengan tajam.

"Namaku Mira, dan ini Rina, Sari, Dita, dan Lila," kata wanita yang sebelumnya berbicara, memberanikan diri memperkenalkan dirinya dan teman-temannya.

"Baiklah, Mira, apa rencana kalian sekarang?" kata Lynx sambil menatap mereka satu per satu.

Mereka saling bertatapan dengan wajah bingung karena tidak mengetahui apa yang harus dilakukan. "Kami tidak tahu, kami hanya ingin melarikan diri agar tidak ditangkap oleh mereka," kata Mira, berusaha menghilangkan rasa takutnya.

"Bagaimana dengan keluarga kalian yang lainnya? Berapa jumlah kalian semuanya dan di mana kalian tinggal?" tanya Lynx dengan nada lembut agar mereka tidak bertambah takut.

"Kami hanya kelompok kecil yang tinggal dengan empat keluarga. Kami tidak mengetahui nasib keluarga kami karena saat itu kami langsung bersembunyi di atas pohon saat mereka menyerang," kata Mira dengan sedih.

"Orang tua kami sudah menyiapkan tempat persembunyian untuk mengantisipasi kejadian ini," kata Dita menambahkan. "Tapi kami tidak paham, setelah mereka pergi, bagaimana mereka akhirnya kembali untuk mengejar kami?"

"Di perjalanan, salah satu pemuda dari kelompok kalian memberitahu kami dengan tujuan meminta kami membebaskan dia," jawab Bruno dengan cepat setelah melihat Lynx menatap tajam ke arahnya.

Para wanita kaget dan terkejut mendengar kata-kata perampok tersebut. Di dalam benak mereka terbayang seorang pemuda yang terlihat seperti pengecut selama ini. "Pasti dia," kata mereka saling melirik.

"Jika kalian tidak punya rencana, kalian bisa menungguku," Lynx mengalihkan perhatian dan berjongkok lalu menggambar di tanah mengenai arah untuk menemukan gua tempat tinggalnya dan Leena sebelumnya.

"Aku akan pergi ke sarang perampok untuk memusnahkan mereka dan menyelamatkan keluarga kalian. Aku berharap keluarga kalian baik-baik saja," kata Lynx memberi semangat.

Mereka berlima menatap mata Lynx dengan penuh harapan dan rasa terima kasih. Mereka sepakat untuk menunggu Lynx di tempat yang digambarkan karena tidak memiliki tujuan lain.

Setelah mereka berlima pergi, Lynx mengajak Bruno untuk melanjutkan perjalanan menuju sarang mereka.

Selama perjalanan, Lynx memperoleh banyak informasi dari perampok tersebut. "Ternyata leluhur mereka sudah bangkit. Apakah dia yang merasuki Rayden sehingga kekuatannya berubah drastis dan terlihat seperti orang yang berbeda?" batinnya.

Lynx juga menemukan bahwa para perampok menyebar ke seluruh pulau dan membangun tempat-tempat kecil sebagai tempat tinggal mereka untuk mempermudah menyusuri dan menangkap sisa-sisa penduduk yang masih ada.

Kemarahan Lynx memuncak saat mendengar bahwa suku Monrest memerintahkan mereka untuk menangkap semua penduduk demi mengorbankan mereka guna mengembalikan kekuatan leluhur mereka. "Aku tidak akan membiarkan ini terjadi," tekadnya.

Selain itu, Lynx juga merasa khawatir dengan kebangkitan leluhur Monrest. "Aku harus segera meningkatkan kekuatanku dan bisa membawa para penduduk Surya pergi dari tempat ini," pikirnya, merasa pusing menghadapi dua ancaman besar di depannya: monster naga dan leluhur Monrest, sang kultivator.

Saat mereka hampir tiba di tempat tujuan, malam sudah mulai menjelang. Dari kejauhan, Lynx dapat melihat cahaya yang menerangi tempat tinggal mereka dan bayangan orang-orang yang bergerak.

"Apa kamu tahu di mana lokasi tempat perampok lainnya?" tanya Lynx.

"Aku tidak tahu," kata Bruno dengan ragu.

"Bagus. Aku suka jawabanmu. Karena kamu tidak mengetahui tempatnya, berarti kamu tidak ada gunanya lagi untukku," kata Lynx sambil mengeluarkan pedangnya.

"A-aku tahu. Maafkan aku. Aku akan mengantarkanmu ke tempat yang lainnya," jawabnya dengan ketakutan.

"Bagus, selama kamu masih berguna untukku dan tidak berbuat hal yang merugikan, aku akan membiarkanmu," kata Lynx dengan nada tegas.

Bruno menganggukkan kepalanya. Dia sangat takut kepada Lynx karena sudah melihat secara langsung kekuatannya. Dia yakin Lynx mampu menghancurkan tempat tinggal mereka yang kecil, karena Lynx mampu melawan mereka di sarang utama mereka. Oleh karena itu, selama perjalanan, dia tidak berani berbohong atau menyembunyikan lokasi-lokasi di mana kawanan perampok berjaga dan mengawasi keamanan disekitar tempat tinggal mereka.

"Tunggu di sini. Kamu bisa saja memberitahu mereka keberadaanku atau melarikan diri, tapi kamu harus siap menerima akibatnya," kata Lynx dengan nada mengancam, matanya seakan menyala dengan sangat mendominasi.

"Baik, baik, aku tidak berani," jawab Bruno, suaranya bergetar ketakutan. Ia masih terbayang bagaimana Lynx dengan cepat menghabisi para penjaga tanpa suara, seolah menghilang dan muncul kembali hanya dalam sekejap. Bahkan, Lynx bisa mengetahui posisi penjaga yang sedang berpindah lokasi.

Malam itu juga, Lynx mulai bergerak. Ia melompat ke sebuah pohon, memanfaatkan penglihatan tembus pandangnya untuk memindai keadaan sekitar.

Di sebuah bangunan, Lynx mengepalkan tangannya, marah melihat seorang wanita sedang ditiduri secara paksa oleh seorang perampok, disaksikan oleh empat perampok lainnya. "Biadab! Mereka tidak bisa dilepaskan begitu saja," geramnya dalam hati.

Setelah memastikan jumlah dan posisi mereka, serta melihat bahwa penjagaan tidak terlalu ketat dan tawanan hanya terikat di sebuah pohon dekat bangunan, Lynx mulai bertindak. "Jumlah mereka hanya dua puluh empat orang," batinnya.

Lynx berpindah, melompat ke pohon terdekat dengan para tahanan, memastikan keamanan mereka terlebih dahulu.

Tanpa menunda waktu, Lynx melompat dan berlari sambil melemparkan pisau terbang ke arah empat perampok yang menjaga tahanan. Lemparannya tepat mengenai dahi para perampok tersebut, membuat mereka tidak sempat bereaksi untuk memperingatkan yang lain.

Lynx berlari menuju arah para perampok yang sedang duduk berpesta di dekat api unggun, pedangnya berkilau karena dialiri energi. Dalam beberapa tebasan, empat belas perampok yang duduk di dekat api unggun terbunuh tanpa mereka mengetahui apa penyebab kematian mereka.

Salah seorang perampok yang keluar dari salah satu bangunan melihat kejadian itu dan berteriak, "PENYUSUP!"

Mendengar teriakan itu, Lynx segera melompat dan berlari ke arah perampok tersebut, melemparkan pisau terbangnya tepat ke leher perampok itu hingga tewas seketika.

Lima orang yang berada di dalam ruangan terkejut mendengar teriakan salah satu anggota mereka. Segera mereka berhenti melakukan perbuatan mereka, dan seorang perampok yang merupakan pimpinan kelompok tersebut menarik paksa rambut wanita yang mereka tiduri.

